DR. Khalid Abu Syadi : Alangkah Buruknya Dosa Season 1

DR. Khalid Abu Syadi 
Alangkah Buruknya Dosa 
Season 1 
Alangkah Buruknya Dosa


Terhalangnya Ilmu dan Rezeki 
Suatu ketika Imam Syafi'i duduk di hadapan Imam Malik. Ketika itu Imam Malik terkesima dengan kelebihan yang dimiliki Imam Syafi'i. Lalu Imam Malik berkata, "Allah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka janganlah sekali-kali kamu memadamkan-nya dengan kegelapan maksiat." Namun pada suatu hari ketika Imam Syafi'i sedang dalam perjalanan menuju rumah gurunya, Waki' Ibnul Jarah, wasiat Imam Malik tersebut ia langgar. la melihat tumit seorang wanita. Seketika itu pulalah hafalannya kacau, padahal ia terkenal mampu menghafal persis seperti yang tertulis, bahkan agar hafalannya tak tercampur, ia meletakkan sebelah tangannya di atas lembaran berikutnya. Imam Waki' pun kembali mengingatkan Syafi'i terhadap nasihat Imam Malik, yaitu agar ia meninggalkan dosa sebagai obat manjur untuk menguatkan hafalannya. Kuadukan kepada Waki' buruknya hafalanku Maka ia menasihatiku agaraku meninggalkan maksiat Ia juga mengingatkanku bahwa ilmu adalah cahaya Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat Hal inilah yang membuat Abud Darda menangis tatkala umat Islam berhasil melakukan ekspansi ke kawasan Cyprus. Ketika ia ditanya, "Apakah yang membuat kamu menangis di saat Allah memuliakan Islam dan menghinakan kemusyrikan dan orang-orangnya?" Maka ia menjawab, "Alangkah terhinanya makhluk Allah ke¬tika meninggalkan perintah-Nya. Sebenar-nya mereka adalah umat yang kuat dan mempunyai kemampuan, namun mereka telah meninggalkan perintah Allah azza wa jalla." Tatkala kamu dalam limpahan nikmat, maka peliharalah ia Karena dosa-dosa akan membuatnya sirna Peliharalah nikmat itu dengan ketaatan pada Tuhan sekalian hamba Karena sesungguhnya Ia Mahacepat menurunkan siksa Aneh Tapi Nyata Mungkin kadangkala Anda bertanya-tanya, "Mengapa saat ini kebanyakan orang yang fasik dan selalu bermaksiat memiliki kedudukan istimewa? Namun orang-orang yang selalu berpegang teguh pada kebenaran dan ajaran Islam men-derita kefakiran, tidak berdaya, dan terhina?" Rasulullah saw. menjawab pertanyaaan ini dalam sabdanya, “Apabila kamu menyaksikan seorang hamba mendapatkan dari Allah ta'ala apa yang ia sukai dari kehidupan dunia, namun ia terus berkecimpung dalam kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa semua itu hanyalah istidraaj." Lalu Rasulullah saw. membacakan firman Allah, "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (al-An'aam: 44) Istidraaj adalah penangguhan hukuman dan ditundanya azab. Wahai saudaraku, tatkala kamu merasa Allah melimpahkan berbagai nikmat sedangkan kamu melakukan maksiat, maka berhati-hatilah. Jika Allah memberikan rezeki berupa harta, anak, kesehatan, atau-pun ketampanan, namun kamu balas semua itu dengan maksiat, maka sekali lagi berhati-hatilah. Takutlah akan sirnanya nikmat tersebut. Takutlah kepada siksa-Nya yang datang dengan tiba-tiba dan akan beratnya kemurkaan-Nya serta hilangnya pengampunan-Nya. Ataukah kamu ingin aku perkuat sunnatullah ini dengan argumen dari Al-Qur'an? Perhatikan dengan saksama firman Allah swt. tatkala menggambarkan keadaan orang-orang kafir, "Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." [Az-Zukhruf: 33-35] 

Hati yang Gelisah Dosa-dosa hanya akan membuat hati gelisah dan merasa sedih. 
Kegelisahan dan kesedihan ini terkumpul menjadi satu da-lam hati, sesaat setelah melakukan dosa dan kesalahan. Mereka adalah orang yang hatinya dipenuhi keimanan. Mereka tidak akan pernah merasakan kelezatan dan kebahagiaan dengan sempurna selamanya dalam perbuatan maksiat. Saat melakukan maksiat, secara spontan kegelisahan memenuhi hatinya. Akan tetapi, manisnya hawa nafsu ter-kadang menutupi perasaan ini. Oleh karena itu, siapa saja yang hatinya tidak lagi merasa gelisah ketika berbuat maksiat, maka segeralah mengoreksi kadar keimanannya, dan hendaknya ia meratapi kematian hatinya. Innaalilaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Runtuhnya Bangunan Malik bin Dinar pernah berkata, "Bila hati tidak lagi merasakan sedih dan gelisah, maka ia telah rusak sebagaimana rumah yang runtuh karena tidak lagi dihuni." Kesedihan dan kegelisahan bukan saja menjadi standar selamatnya hati. Akan tetapi lebih dari itu, menurut Hasan al-Bashri kesedihan dan kegelisahan merupakan salah satu penyebab masuknya seseorang ke dalam surga. Ia berkata, "Seorang mukmin pasti tidak luput dari dosa. Akan tetapi ia akan selalu merasa sedih karena dosa yang ia perbuat, sampai akhirnya ia masuk surga." Wahai saudaraku, kamu mengaku se¬dih dan gelisah di bibir saja, sedangkan perilakumu selalu membohongi lisanmu. Seandainya memang benar di hatimu ada kegelisahan dan kesedihan, tentu pengaruhnya akan terlihat jelas pada kondisi tubuh-mu. Akan tampak ratap tangismu karena takut kepada Allah. Akan terlihat amal kebajikanmu untuk menghapus perbuatan-perbuatan burukmu. Akan terlihat pula kedekatanmu dengan orang-orang saleh. Juga akan terlihat bahwa kamu selalu menjauhi orang-orang yang berbuat maksiat. Dan pasti akan tampak tobatmu yang sesungguhnya, penyesalan yang mendalam, serta niat baru yang kokoh. 

Merasa Asing di Tengah Orang-Orang Saleh 
Abud Darda mengingatkan, "Jangan sampai kalian dicela oleh hati orang-orang mukmin tanpa kalian sadari. Tahukah kalian bagaimana hal ini terjadi? Jika seorang hamba bermaksiat kepada Allah, maka Allah akan menimbulkan kebencian orang-orang mukmin terhadapnya tanpa dapat disadari." Jika saudaramu kurang ramah terhadapmu, maka itu karena dosa yang kamu perbuat, maka bertobatlah kepada Allah ta'ala. Jika kecintaan saudararnu bertambah, maka hal itu karena ketaatan yang kamu lakukan, maka bersyukurlah kepada Allah swt. Jika kamu berbuat dosa, maka bukan saja sikap kurang ramah yang kamu dapati, namun juga penghinaan dan anggapan remeh dari semua makhluk di muka bumi. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ke-tetapan yang disusun oleh Hudzaifah ib-nul Yamani yang berbunyi, "Jika suatu kaum tidak menghiraukan hak-hak Allah, maka Allah akan mengutus kepada mereka orang yang menghinakan dan menganggap remeh mereka." Kiranya perkataan al-Umari az-Zahid sangat tepat ketika ia membuktikan validitas ketetapan yang dibuat oleh Hudzai¬fah tersebut. Al-Umari berkata, "Barangsiapa meninggalkan amal ma'ruf nahi munkar karena takut kepada sesama makhluk, maka akan dicabut wibawa ketaatan darinya. Jika ia memerintah anaknya atau pembantunya, niscaya perintahnya tidak akan dihiraukan dan dianggap remeh." 

Urusan Menjadi Sulit 
Allah swt. berfirman, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (asy-Syuura: 30) Rasulullah saw. bersabda, "Seseomng tidak akan mendapatkan rezeki karena dosa yang ia perbuat." (Hadits Hasan) Seorang mukmin yang senantiasa mengukur segala permasalahannya dengan standar keimanan maka akan merasa yakin bahwa bencana dan cobaan yang menimpanya adalah karena dosa yang ia perbuat. Berbeda dengan pengikut paham materialis yang tenggelam dalam lautan mak-siat. Mereka akan mengeluh dan gelisah ketika mengalami kesusahan dan mendapatkan cobaan. Mereka tidak menyadari bahwa semuanya disebabkan oleh mereka sendiri. Merekalah yang terlebih dahulu melanggar perintah Allah dan melakukan dosa, sehingga mereka mendapatkan hukuman dari Allah. Dan orang yang memulai perbuatan zalim adalah lebih zalim. Sufyan ats-Tsauri berkata," Aku mengetahui dosa-dosaku dari perilaku istriku, hewan peliharaanku, dan tikus yang ada di rumahku." Pengetahuan terhadap dosa semacam ini tidak dimiliki begitu saja oleh seseorang. Pengetahuan ini adalah berkat cahaya Ilahi yang dianugerahkan oleh Allah swt. yang menerangi hati dan mata serta menunjukkan jalan yang lurus. Kita berharap kepada Allah swt., semoga kita termasuk golongan mereka. 

Hilangnya Ketaatan 
Sufyan berkata, "Selama empat bulan aku tidak dapat melakukan shalat malam hanya karena sebuah dosa yang aku perbuat." Ibnu Sirin pernah mengejek orang miskin. Dan karena perbuatannya tersebut, maka Ibnu Sirin terbelenggu utang. Makhul pernah mengatakan kepada seseorang yang menangis bahwa orang tersebut hanya ingin dilihat orang lain (riya'). Dan karena perbuatannya tersebut, maka Ibnu Sirin tidak dapat menangis karena takut kepada Allah swt., selama satu tahun. Pada hakikatnya, mereka yang menerima hukuman di dunia, tidak lain adalah karena kesayangan Allah kepada mereka, yaitu karena hukuman di dunia dapat di-tanggung dan cepat berlalu, tidak seperti hukuman di akhirat. Tidak ada sepasang mata pun yang dapat membayangkan kedahsyatannya, tidak ada sepasang telinga pun yang pernah mendengar pedihnya, juga tidak terlintas di hati manusia bagaimana rasa sakitnya. Rasulullah saw. bersabda, "Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka la akan mempercepat hukumannya di dunia (menghukumnya di dunia). Namun apabila la menginginkan keburukan pada hamba-Nya, maka la biarkan hamba tersebut dengan dosanya, hingga mendapatkan balasan kelak di hari kiamat." (Hadits Sahih) Mereka yang disegerakan hukumannya di dunia adalah yang mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, orang-orang yang jauh dari rahmat-Nya, Allah biarkan mereka terlena di dunia sehingga mereka menabung hukuman untuk dirinya sendiri di akhirat nanti. 
A. Perhatikan Sejenak Kadang kita mendapati seseorang yang berbuat dosa, namun ia tidak menyadari bahwa Allah swt. sedang menghukumnnya. la juga tidak merasakan perubahan nikmat Allah kepadanya. Bagaimana menafsirkan fenomena ini? Ada beberapa tanda-tanda terhalang-nya rahmat Allah, yaitu hilangnya kenikmatan rasa khusyu dan indahnya bermunajat, tidak adanya keinginan untuk meningkatkan frekuensi ketaatan, tidak diterimanya doa-doa, keringnya air mata dan hi¬langnya isak tangis, kerasnya hati dan hi¬langnya pengaruh nasihat yang diberikan kepadanya. Banyak sekali orang yang terhalang dari rahmat Allah swt., namun jarang sekali yang merasakannya. 
B. Wahai Saudaraku Betapa sering matamu menyaksikan hal-hal yang diharamkan, namun jarang sekali ia meneteskan air mata penyesalan. Betapa sering kamu absen dari shalat subuh, hingga sirnalah cahaya dari wajahmu. Betapa sering kamu memakan harta ha-ram, hingga tercerabut keberkahan dari-nya. Betapa sering kamu menikmati suara i nusik, sehingga kamu lupa membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Betapa hatimu dipenuhi dengan kecintaan terhadap dunia, hingga ia mengabaikan akhirat. Ketahuilah bahwa akhirat tidak dapat diduakan dengan hal lain. 
C. Mutiara Hikmah Ibrahim bin Adham berkata, "Banyak melihat hal-hal yang batil (diharamkan), mengakibatkan pengetahuan terhadap kebenaran lenyap dari dalam hati." 

Perbuatan Maksiat Mengakibatkan Perbuatan Maksiat Lainnya 
Jika seseorang berbuat maksiat, maka setan akan segera mendekat dan malaikat menjauhinya. Setan selalu mengajak kepada kejahatan, maksiat, dosa, dan kehancuran. Benar apa yang pernah diucapkan oleh Sahalbin Ashim, "Hukuman dari perbuat¬an dosa adalah dosa juga." Hal di atas sama dengan mata rantai yang saling mengokohkan satu sama lain. Atau seperti biji-bijian yang dirangkai, apa-bila salah satu darinya terjatuh, maka rangkaian biji-bijian tersebut akan terhambur, dan biji-biji yang lain akan berguguran. Ibnul Qayyim bersumpah, "Demi Allah, musuhmu (setan) hanya akan memusuhi-mu jika walimu (malaikat) meninggalkan-mu. Maka jangan kamu kira bahwa setan menang atas malaikat, akan tetapi malaikat yang berpaling darimu. 

To Continue, Season 2 

Sumber: Buku Alangkah Buruknya Dosa Karya DR. Khalid Abu Syadi
Share on Google Plus

About Unknown

Satrio Utama Nopenri (Rio Anderta)
Kontak:
FB: https://www.facebook.com/RioAnderta
Twitter: @Anderta
Instagram: rioanderta
Email: rioanderta90@gmail.com

0 comments:

Post a Comment